Setiap orang
pasti menginginkan pekerjaan yang terbaik bagi penghidupannya. Setelah bertahan
dan memiliki pengalaman yang cukup maka ia berhak untuk mendapatkan pekerjaan
yang lebih baik. Ini adalah hal yang dapat diterima secara wajar karena
kebutuhan seseorang seiring dengan bertambahnya usia maka kemungkinan besar
akan membutuhkan penghasilan yang memadai dan pasti per bulannya.
Pertanyaan
sederhana yang muncul setelah itu adalah: “kalau lulus ingin jadi (bekerja)
apa?”. Maklum sebagai seorang mahasiswa tingkat tiga memang sudah seharusnya
menentukan pilihan untuk masa depan. Jawabannya, tentu saja bekerja untuk
menggantikan beban orang tua dalam membiayai kehidupan mereka. Pemikiran ini
sangat idealis bukan? Namun, itu saja tidak cukup untuk menjawab pertanyaan
yang sederhana ini. Pertanyaan semacam itu harus dijawab dengan jawaban-jawaban
yang lebih spesifik tentang cita-cita yang ingin dicapai. Hal itu agar
memudahkan mencapai target dengan kemungkinan yang besar. Kalaupun tidak,
pencapaiaan itu tidak akan jauh melenceng dari yang diharapkan.
Di era
globalisasi seperti ini, mencari pekerjaan memang tidak mudah atau terbilang
sulit jika tidak diimbangi dengan kemampuan lebih atau berkompeten di
bidangnya. Karena seiring dengan perkembangan zaman persaingan antar individu
juga semakin berat dan dibutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan, baik itu
energi, materi maupun mental. Kadang juga untuk mendapatkan jabatan yang
diinginkan berbagai cara yang tidak dibenarkan dilakukan sebagai jalan pintas
seperti praktik penipuan sampai dengan penyuapan. Lalu, jika semua cara sudah
dilakukan tetapi hasil tetap nihil, apa solusinya?
Inilah
jawabannya. Kebanyakan orang lebih memilih menjadi pekerja atau bahasa kerennya
eksekutif. Alasannya kerap sangat klasik dan sederhana, “nggak mau repot”,
“nggak punya modal”, atau “takut gagal”. Menariknya, orang-orang yang beralasan seperti itu kebanyakan
belum pernah mencoba sama sekali terjun ke dunia bisnis atau menjadi pengusaha
mandiri. Atau biasanya mereka baru mencoba satu atau dua kali dan belum
mendapatkan hasil seperti yang diharapkan mereka putus asa dan memilih untuk
menghentikan usahanya.
Padahal, mencoba
menjadi pengusaha atau enterpreneur
merupakan sesuatu yang mengasyikkan meski itu harus menjadi pilihan terakhir. Tentu saja,
jadilah seorang pengusaha muda yang smart dan profesional. Jangan pernah
berpikir untuk menjadi pengusaha “HITAM”, maksudnya seperti menempuh jalan
pintas yang tidak halal, misalnya korupsi, kolusi dan suap. Hampir bisa
dipastikan, semua pengusaha yang mempunyai karakter seperti itu akan menjadi
pengusaha yang akan menuai kesuksesan.
Menjadi
pengusaha mempunyai banyak kelebihan yang tidak didapat dari profesi lain.
Pertama, sukses atau tidaknya suatu usaha ditentukan dari kemampuan diri dan
usaha yang dilakukan. Sesuatu yang dibangun dengan tekad tinggi yang tinggi dan
kerja keras akan membuahkan hasil yang manis di kemudian hari. Sebaliknya jika
dilakukan dengan setengah-setengah maka hanya sedikit yang diperoleh. Kedua,
menjadi pengusaha akan secara otomatis menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi
orang lain. Hal ini berkaitan dengan perkembangan usaha yang digelutinya.
Semakin maju suatu usaha maka membutuhkan tenaga kerja yang banyak untuk
menyokong usaha tersebut. Ketiga, seorang pengusaha mempunyai kebebasan untuk
mengarahkan dan mengembangkan usahanya sampai selebar-lebarnya tanpa ada
batasan. Keempat, fleksibilitas waktu kerja. Artinya, tidak terikat peraturan
yang mengharuskan bekerja pada waktu-waktu tertentu. Fleksibilitas waktu kerja
dalam berwirausaha membuat lebih leluasa dalam mengejar target bisnis. Juga
dapat mengalokasikan waktu untuk keluarga, diri sendiri, dan bersosialisasi.
Semua
orang memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke dalam dunia kerja sesuai
minat dan bakat. Namun, kadangkala nasib mengatakan lain. Maka cara tepat untuk
mengatasinya adalah menciptakan kreativitas masing-masing tanpa mengikuti alur
atau tradisi masyarakat yang beranggapan bahwa berwirausaha itu tidak ada
jaminan dapat penghasilan besar dan tidak keren. Itu salah. Karena dalam
kenyataannya banyak pengusaha yang namanya besar karena usaha yang dibangun
mulai dari bawah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar