JURNAL BIOSISTEMATIKA
PENYUSUNAN POHON FILOGENI HEWAN CRANIATA
Penyusun:
Sunali Agus Eko P. 081211431125
Tarini 081211431126
Machshushiyah M. 081211431133
Hadi Ahmad Fauzy 081211431136
Muhammad Nadhif 081211432003
Syarifudin Rosyad 081211432008
Tarini 081211431126
Machshushiyah M. 081211431133
Hadi Ahmad Fauzy 081211431136
Muhammad Nadhif 081211432003
Syarifudin Rosyad 081211432008
Dosen pembimbing:
Prof. Dr. Bambang Irawan, M. Sc.
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
PENYUSUNAN POHON FILOGENI HEWAN CRANIATA
Sunali
Agus E.P., Tarini, Machshushiyah M., Hadi Ahmad F., Muhammad Nadhif, Syarifudin R.
Departement of Biology, Faculty of Science and Technology, Airlangga University
Departement of Biology, Faculty of Science and Technology, Airlangga University
Kampus C UA, Mulyorejo Surabaya 60115,
Indonesia
Email: muhammad.nadhif-12@fst.unair.ac.id
Email: muhammad.nadhif-12@fst.unair.ac.id
ABSTRACT
The degree to which the ontogeny of organisms could facilitate our
understanding of phylogenetic relationships has long been a subject of
contention in evolutionary biology. The famed notion that ‘ontogeny
recapitulates phylogeny’ has been largely discredited, but there remains an
expectation that closely related organisms undergo similar morphological
transformations throughout ontogeny. To test this assumption, we used
three-dimensional geometric morphometric methods to characterize the cranial morphology
of 11 craniata species and construct allometric trajectories that model the
post-natal ontogenetic shape changes. Using time-calibrated molecular and
morphological trees, we employed a suite of comparative phylogenetic methods to
assess the extent of phylogenetic signal in these trajectories. All analyses
largely demonstrated a lack of significant phylogenetic signal, indicating that
ontogenetic shape changes contain little phylogenetic information. Notably,
some Mantel tests yielded marginally significant results when analysed with the
morphological tree, which suggest that the underlying signal in these
trajectories is correlated with similarities in the adult cranial morphology.
However, despite these instances, all other analyses, including more powerful
tests for phylogenetic signal, recovered statistical and visual evidence
against the assumption that similarities in ontogenetic shape changes are
commensurate with phylogenetic relatedness and thus bring into question the
efficacy of using allometric trajectories for phylogenetic inference.
Keywords: Phylogenetic,
evolutionary, morphological, cranial
PENGANTAR
Di
Laboratorium FST Universitas Airlangga memiliki
koleksi beberapa macam tengkorak dari kelompok tetrapoda. Dari berbagai macam
tengkorak tersebut belum pernah dicari kekerabatannya. Untuk itu akan dicari
hubungan kekerabatan kelompok tetrapoda tersebut berdasarkan tengkoraknya.
Metode
yang digunakan untuk mencari hubungan kekerabatan ini yaitu metode kladistik
yang dilanjutkan dengan pembuatan kladogram. metode kladistik kekerabatan
tersebut berdasarkan dengan banyaknya karakter derivat yang sama. Dengan
demikian setiap karakter hanya dibandingkan dengan karakter yang homolog,
selanjutnya ditentukan apakah karakteristiknya bersifat derivat atau bukan.
Suatu karakteristik derivat disebut apomorfi, sedangkan untuk karakteristik
nenek moyang disebut plesiomorfi.
Selanjutnya
kladogram yang sudah jadi akan diparsimoni berdasarkan bukti geologi, bukti
paleontologi, dan bukti literatur yang akan menjadi pohon filogeni.
Tengkorak
yang dicari hubungan kekerabatannya yaitu fosil neandertal, orang utan, monyet,
kelelawar, lembu, buaya, tuatara, amphibi, penyu, platipus, dengan takson tamu
yaitu ikan moray.
BAHAN DAN
CARA KERJA
Bahan yang digunakan pada praktikum
kali ini yaitu Platypus, Penyu, Amphibia, Tuatara, Buaya, Lembu, Kelelawar,
Monyet, Orang Utan, Fosil Nanderthal dan takson tamu berupa Ikan Moray.
DESKRIPSI
Ikan Moray
Ikan
Moray sudah memiliki
gigi, homodont. Dahinya berbentuk horizontal, progantia sangat panjang, dagunya
tidak berkembang. Mata berada di samping, tulang pipinya datar, tulang nasalnya
besar, os supraoccipital
pada Ikan Moray kecil, foramen
oksipital magnum mengarah keposterior, tidak meiliki condilus occipitalis,
palatumnya tidak menutup. Atap tengkorak Ikan
Moray tidak mempunyai
hiasan.
Tuatara
Tuatara termasuk dalam suatu
kelompok animalia yang mempunyai gigi yang bertipe homodont tetapi tidak
mempunyai caninus (gigi taring). Dahinya bersifat horizontal dengan progantia
(moncong) yang normal (tidak panjang ataupun mereduksi) dan dagu yang tidak
berkembang. Matanya terletak disamping dengan tulang pipi yang datar/ rata dan tulang
nasal yang mereduksi. Os Supraoccipitalnya kecil, condylus occipitalisnya
berjumlah dua dengan foramen occipital magnum yang menuju ke posterior, tetapi
untuk penutupan palatumnya yaitu tidak rapat dan atap tengkoraknya tanpa
mahkota.
Buaya
Buaya termasuk dalam suatu kelompok
animalia purba yang masih hidup sampai sekarang. Hewan ini mempunyai gigi besar
yang bertipe homodont tetapi tanpa caninus (gigi taring). Dahinya bersifat
landai dengan progantia (moncong) yang sangat panjang dan dagu yang tidak
berkembang. Matanya terletak disamping dengan tulang pipi yang datar/ rata dan
tulang nasal yang besar. Os Supraoccipitalnya kecil, tidak mempunyai condylus
occipitalis tetapi mempunyai foramen occipital magnum yang menuju ke posterior,
dan untuk penutupan palatumnya yaitu tidak rapat dan atap tengkoraknya tanpa
mahkota.
Lembu
Lembu merupakan suatu kelompok
animalia yang mempunyai gigi yang bertipe homodont tetapi caninusnya (gigi
taringnya) tidak ada. Dahinya bersifat horizontal dengan progantia (moncong)
yang sangat panjang tetapi dagunya tidak berkembang. Matanya terletak disamping
dengan tulang pipi yang datar/ rata dan tulang nasal yang mereduksi. Os
Supraoccipitalnya besar dan condylus occipitalisnya berjumlah satu dengan
foramen occipital magnum yang menuju ke arah posterior, tetapi untuk penutupan
palatumnya tidak rapat dan pada atap tengkoraknya tidak terdapat mahkota.
Kelelawar
Kelelawar termasuk dalam suatu
kelompok animalia yang bisa terbang karena mengembangkan tungkai depannya dan
termasuk hewan malam yang tidak sangat peka terhadap cahaya, hewan ini
mempunyai gigi yang bertipe heterodont dengan caninus (gigi taring) yang besar.
Dahinya bersifat horizontal dengan progantia (moncong) yang normal (tidak
panjang ataupun mereduksi) tetapi dagunya tidak berkembang. Matanya terletak
dimuka dengan tulang pipi yang datar/ rata dan tulang nasal yang besar. Os
Supraoccipitalnya kecil dan condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan
foramen occipital magnum yang menuju ke arah posterior, dan untuk penutupan
palatumnya yaitu tertutup rapat serta atap tengkoraknya mempunyai hiasan atau
crest.
Monyet
Monyet termasuk dalam suatu kelompok
primata yang mempunyai 4 tungkai seperti manusia yaitu 2 tungkai bagian
superior (tangan) dan 2 lagi merupakan bagian inferior (kaki) yang digunakan
untuk jalan. Hewan ini mempunyai gigi
yang bertipe heterodont dengan caninus (gigi taring) yang besar. Dahinya
bersifat horizontal dengan progantia (moncong) yang berkurang atau tidak ada
dan dagu yang berkembang. Matanya terletak dimuka dengan tulang pipi yang
menonjol dan tulang nasal yang mereduksi. Os Supraoccipitalnya kecil dan
condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan foramen occipital magnum yang
menuju ke arah ventral, dan penutupan palatumnya yaitu tertutup rapat serta
pada atap tengkoraknya tidak mempunyai atau tidak terdapat mahkota.
Orang utan
Orang utan termasuk dalam suatu
kelompok primata besar yang seperti manusia yaitu mempunyai 4 tungkai yaitu 2
tungkai bagian superior (tangan) dan 2 lagi merupakan bagian inferior (kaki)
yang digunakan untuk jalan. Hewan ini
mempunyai gigi yang bertipe heterodont dengan caninus (gigi taring) yang
besar. Dahinya bersifat vertikal dengan progantia (moncong) yang normal (tidak
panjang ataupun mereduksi) dan dagu yang berkembang. Matanya terletak dimuka
dengan tulang pipi yang menonjol dan tulang nasal yang mereduksi. Os
Supraoccipitalnya kecil dan condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan
foramen occipital magnum yang menuju ke ventral, dan penutupan palatumnya yaitu
tertutup rapat serta pada atap tengkoraknya mempunyai hiasan atau krest.
Fosil Neanderthal
Fosil Neanderthal ini mempunyai gigi
yang bertipe heterodont dengan caninus (gigi taring) yang kecil. Dahinya
bersifat horizontal dengan progantia (moncong) yang normal (tidak panjang
ataupun mereduksi) dan dagu yang berkembang. Matanya terletak dimuka dengan
tulang pipi yang menonjol dan tulang nasal yang mereduksi. Os Supraoccipitalnya
kecil dan condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan foramen occipital magnum
yang mengarah ke ventral, dan penutupan palatumnya yaitu tertutup rapat serta pada
atap tengkoraknya tidak mempunyai mahkota.
