BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Istilah mangrove
dalam bahasa Inggris digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di
daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu species tumbuhan
yang menyusun komunitas tersebut. Komunitas beberapa tumbuhan tersebut
membentuk sebuah ekosistem yang disebut hutan mangrove. Hutan mangrove adalah
hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara
sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Oleh karena itu, mangrove sering
disebut juga hutan pasang surut, bisa juga hutan payau atau hutan bakau.
Di Indonesia,
ekosistem hutan mangrove mudah kita jumpai. Hal ini dikarenakan sebagian besar
wilayah Indonesia terdiri atas laut. Sehingga dalam hal ini Indonesia memiliki
banyak pesisir atau pantai. Salah satunya adalah Kabupaten Gresik. Perlu
diketahui bahwa daerah ini merupakan salah satu kota di Indonesia yang terletak
pada pesisir pantai timur Jawa yang memilik perkembangan indistri yang pesat.
Tetapi, hampir
60% hutan mangrove di Kabupaten Gresik sudah dialih-fungsikan menjadi
pabrik-pabrik yang membuat polusi dimana-mana. Meskipun pemerintah daerah sudah
mengeluarkan Undang-Undang yang berkaitan dengan perusakan hutan di Kabupaten
Gresik tetapi dalam pelaksanaannya gambar hutan bakau undang-undang tersebut
kurang efektif. Jumlah yang rusak hutan di kota ini semakin lama semakin
sedikit termasuk hutan bakaunya. Seiring dengan berkurangnya habitat mangrove
di Gresik akibat pesatnya pembangunan, perlu adanya data lengkap tentang
keanekaragaman mangrove yang dapat menunjang upaya konservasi, sehingga dapat
dijadikan dasar dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
Hutan
mangrove yang berada ada di Ujungpangkah memiliki peran dalam transport sedimen
yang cukup besar dari sungai Bengawan Solo yang bermuara di Laut Jawa, tetapi
lambat laun daerah tersebut membentuk tanah yang terus maju kelaut (tanah
oloran) hal ini semakin dipercepat dengan pantai yang landai dengan ombak yang
tenang. Pada tahun 70-an kawasan ini merupakan belantara mangrove yang
menyimpan keanekaragaman hayati tinggi, hal ini terbukti dengan digunakannya
daerah ini sebagai daerah persinggahan burung pengembara (migran) yang berasal
dari benua eropa menuju Australia, tempat tinggal dari puluhan jenis burung air
diantaranya kuntul (Egretta alba),
Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus),
Belibis kembang (Dendrocygna arquata),
Pecuk ular (Anhinga melanogaster),
dan jenis burung air lainnya, namun sekarang karena semakin bertambah banyaknya
jumlah manusia di Jawa Timur keberadaan mangrove digantikan oleh lahan-lahan
yang memenuhi kebutuhan hidup manusia seperti tambak udang dan bandeng,
pemukiman, tempat rekreasi, pelabuhan laut, pemukiman dan sawah. Tetapi, di wilayah
Gresik sebagian besar mangrovenya telah direklamasi menjadi kawasan pergudangan
dan industri yang membawa dampak buruk terhadap kualitas lingkungan pesisir
karena sebenarnya wilayah ini merupakan satu kesatuan wilayah yang memiliki
satu fungsi ekosistem yang mendukung kualitas perairan di Utara Jawa Timur
sehingga peruntukkan dan pemanfaatannya tidak dapat dipisahkan menurut daerah
administrasi, ditambah lagi tidak ada instansi atau Dinas di lingkungan
Pemerintah Kabupaten Gresik yang berwenang terhadap pengelolaan kawasan
mangrove sehingga mengakibatkan lepasnya pengawasan apabila terjadi perambahan
kayu mangrove.
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1 Bagaimana tingkat keanekaragaman Mangrove
di muara sungai Bengawan Solo Ujungpangkah?
1.2.2 Bagaimana analisis vegetasi dan indeks
keanekaragaman Mangrove di muara sungai Bengawan Solo Ujungpangkah?
1.2.3 Bagaimana pengaruh variable kerapatan relatif
dan analisis vegetasi terhadap Indeks Keanekaragaman Mangrove di muara sungai
Bengawan Solo Ujungpangkah?
1.3
Tujuan
Penelitian
1.3.1 Untuk mengetahui tingkat keanekaragaman
Mangrove di muara sungai Bengawan Solo Ujungpangkah.
1.3.2 Untuk menentukan analisis vegetasi dan
indeks keanekaragaman Mangrove di muara
sungai Bengawan Solo Ujungpangkah.
1.3.3 Untuk mengetahui pengaruh variable
kerapatan relatif dan analisis vegetasi terhadap Indeks Keanekaragaman Mangrove
di muara sungai Bengawan Solo Ujungpangkah.
1.4
Hipotesis
1.4.1
Hipotesis
Kerja
Semakin tinggi
variabel kerapatan relatif dalam analisis vegetasi maka semakin tingi pula
indeks keanekaragaman Mangrove di muara sungai Bengawan Solo Ujungpangkah.
1.4.2
Hipotesis
Statistik
H0: Tidak ada korelasi antara variabel
kerapatan relatif dengan indeks keanekaragaman.
H1: Ada korelasi antara variabel kerapatan
relatif dengan indeks keanekaragaman.
1.5
Variabel
1.5.1
Variabel bebas : kerapatan relatif
1.5.2
Variabel kontrol : sebaran Mangrove di muara sungai Bengawan
Solo Ujungpangkah
1.5.3
Variabel terikat : indeks keanekaragaman
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Mangrove
A.
Ekologi
Mangrove
Kata
mangrove adalah kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris
grove (Macneae, 1968). Adapun dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan untuk
menunjuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun
untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.
Sedangkan dalam bahasa portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan
individu spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas
tumbuhan tersebut.
Menurut
Snedaker (1978), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di
sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa
di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan
reaksi tanah an-aerob. Adapun menurut Aksornkoe (1993), hutan mangrove adalah
tumbuhan halofit (tumbuhan yang hidup pada tempat-tempat dengan kadar garam
tinggi atau bersifat alkalin) yang hidup disepanjang areal pantai yang
dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata
air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.
Secara
ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh
di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara
sungai) yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang
komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Ada beberapa istilah lain
dari hutan mangrove:
1. Tidal
Forest: Hutan pasang surut
2. Coastal
Woodland: Kebun kayu pesisir
3. Coastal
Woodland: Hutan banjir
4. Hutan
payau: Dilihat dari campuran airnya (asin dan tawar) atau dalam bahasa melayu
disebut hutan paya
5. Hutan
bakau : Sebenarnya bukan istilah yang tepat karena bakau adalah salah satu
jenis dari mangrove tapi istilah ini sudah berkembang secara umum di
masayarakat
Adapun manfaat dan fungsi dari mangrove antara lain:
1. Sebagai
peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi, penahan intrusi air laut ke
darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen.
2. Penghasil
sejumlah besar detritus (hara) bagi plankton yang merupakan sumber makanan
utama biota laut.
3. Daerah
asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding ground), dan daerah
pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya.
4. Penghasil
kayu konstruksi, kayu baker, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.
5. Pemasok
larva (nener) ikan, udang dan biota laut lainnya.
6. Habitat
bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptilia (biawak, ular), dan mamalia
(monyet).
7. Sebagai
tempat wisata
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki
keanekaragaman mangrove tinggi, merupakan tipe hutan khas yang terdapat di
sepanjang pantai atau muara sungai yang memenuhi beberapa kriteria.Dari 15,9
juta ha luas hutan mangrove dunia, sekitar 3,7 juta ha atau 24%-nya berada di
Indonesia. Sehingga Indonesia merupakan tempat komunitas mangrove terluas di
Dunia.
Hutan mangrove seringkali disebut hutan bakau, dan
hutan payau. Istilah bakau umum digunakan di Indonesia karena sebagian besar
hutan mangrove ditumbuhi oleh jenis bakau, bako, tinjang (Rhizophora mucronata)
sehingga beberapa orang menafsirkan semua hutan mangrove adalah terdiri dari
hutan bakau namun sebenarnya hutan bakau/mangrove yang umum digunakan itu terdiri
dari berbagai macam jenis bila diantaranya Avicennia
marina, A. alba, Bruguiera gymnorhiza, B. cylindrica , Rhizophora mucronata, R.
apiculata, R, stylosa, Sonneratia alba, S. caseolaris.
B.
Mangrove
di Ujungpangkah Gresik
Kawasan
Pesisir utara Jawa Timur seperti Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo,
Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo, merupakan satu kesatuan pantai yang
memiliki pola perkembangan garis pantai yang berbeda, sebagian besar dari
wilayah pantai diatas memiliki ciri topografi wilayah pantai yang relatif datar
dengan kemiringan 0-3 derajat, banyaknya sungai yang bermuara mengakibatkan
beberapa wilayah dikawasan pessir utara jawa mengalami pertambahan luas tanah
sehingga pantainya semakin menjorok kelaut (sedimentasi) garis pantai Mangrove
hanya tumbuh pada wilayah pesisir. Sepanjang Pantura Jawa Timur terdapat lebih
dari 25 jenis tumbuhan mangrove, tumbuhan yang ditemukan sebagian besar
merupakan jenis bakau dan api-api, kedua golongan ini paling umum dijumpai dan
dikenal masyarakat pesisir karena selain tumbuh alami di tepi pantai jenis ini
ditanam masyarakat di tepi-tepi tambak tradisional yang difungsikan sebagai
penahan pematang tambak agar tidak longsor sebagian lagi ditanam ditengah
tambak untuk mengundang kawanan burung untuk bersarang dipohon, karena sebagian
besar petambak di daerah Ujung Pangkah Gresik, merasakan manfaat keberadaan
burung tersebut karena menurut mereka kotoran burung berpengaruh pada produksi
ikan yang mereka panen.
C.
Analisis
Vegetasi
Analisis
vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi jenis dan bentuk atau
struktur vegetasi atau masyarakat tumbuhan. Berbeda dengan inventaris hutan
titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Dari segi floristis ekologi
untuk daerah yang homogen dapat digunakan random sampling, sedangkan untuk
penelitian ekologi lebih tepat digunakan sistematik sampling, bahkan purposive
sampling pun juga dibolehkan.
Beberapa
sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana
sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur
komunitas. Sifat – sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar,
dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan (frekuensi),
kerapatan (density), atau banyaknya (abudance).
D.
Metode
Kuadrat
Menurut
Weaver dan Clements (1938) kuadrat adalah daerah persegi dengan berbagai
ukuran. Ukuran tersebut bervariasi dari 1 dm2 sampai 100 m2.
Bentuk petak sampel dapat persegi, persegi panjang atau lingkaran.
Metode
kuadrat ada beberapa jenis:
a) Liat
quadrat: Spesies di luar petak sampel dicatat.
b) Count/list
count quadrat: Metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada
beberapa batang dari masing-masing spesies di dalam petak. Jadi merupakan suatu
daftar spesies yang ada di daerah yang diselidiki.
c) Cover
quadrat (basal area kuadrat): Penutupan relatif dicatat, jadi persentase tanah
yag tertutup vegetasi. Metode ini digunakan untuk memperkirakan berapa area
(penutupan relatif) yang diperlukan tiap-tiap spesies dan berapa total basal
dari vegetasi di suatu daerah. Total basal dari vegetasi merupakan penjumlahan
basal area dari beberapa jenis tanaman. Cara umum untuk mengetahui basal area
pohon dapat dengan mengukur diameter pohon pada tinggi 1,375 meter (setinggi
dada).
d) Chart
quadrat: Penggambaran letak/bentuk tumbuhan disebut Pantograf. Metode ini
ter-utama berguna dalam mereproduksi secara tepat tepi-tepi vegetasi dan
menentukan letak tiap-tiap spesies yang vegetasinya tidak begitu rapat. Alat
yang digunakan pantograf dan planimeter. Pantograf diperlengkapi dengan lengan
pantograf. Planimeter merupakan alat yang dipakai dalam pantograf yaitu alat
otomatis mencatat ukuran suatu luas bila batas-batasnya diikuti dengan jarumnya.
E.
Kerapatan,
Kerimbunan, dan Frekuensi
Kerapatan
adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan tertentu,
misalnya 100 individu/Ha. Jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang
disebut kerapatan (Odum, 1975) yang umumnya dinyatakan sebagai jumlah individu
atau biomas populasi persatuan areal atau volume, misalnya 200 pohon per Ha.
Kerimbunan
adalah proporsi permukaan tanah yang ditutupi oleh proyeksi tajuk tumbuhan.
Oleh karena itu, kelindungan selalu dinyatakan dalam satuan persen.
Frekuensi
adalah presentase total kuadrat yang berisi paling sedikit satu individu
species tertentu yang berakar. Ini adalah sebagian suatu ukuran dimana peneliti
relative menyebut sosiabilitas. Frekuensi relative adalah frekuensi satu
spesies sebagai presentase frekuensi dibagi satu spesies sebagai presentase
frekuensi total tumbuhan.
F.
Nilai
Penting dan Indeks Keanekaragaman
Arti
penting mengacu pada sumbangan relatif suatu spesies kepada seluruh komunitas.
Nilai penting berguna untuk menetukan dominansi jenis tumbuhan terhadap jenis
tumbuhan lainnya, karena dalam suatu komunitas yang bersifat heterogen data
parameter vegetasi sendiri-sendiri dari nilai frekuensi, kerapatan dan
dominansinya tidak dapat menggambarkan secara menyeluruh, maka untuk menentukan
nilai pentingnya yang mempunyai kaitan dengan struktur komunitasnya dapat
diketahui dari indeks nilai pentingnya, yaitu:
NP = FR + KR + DR
Besarnya Indeks
Keanekaragaman jenis menurut Shannon-Wiener didefinisikan sebagai berikut:
Nilai H’ > 3 menunjukkan bahwa
keanekaragaman spesies pada suatu transek adalah melimpah tinggi.
Nilai H’1 = H’3 menunjukkan bahwa
keanekaragaman spesies pada suatu transek adalah sedang melimpah.
Nilai H’ < 1 menunjukkan bahwa
keanekaragaman spesies pada suatu transek adalah sedikit atau rendah.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Metode
Penelitian
Jenis
metode yang digunakan dalam menguji pengaruh variabel kerapatan relative pada indeks keanekaragaman
dalam analisis vegetasi Mangrove adalah tergolong metode observasional. Dalam
kajian ekologi tumbuhan, metode yang digunakan adalah metode kuadrat.
3.2
Tempat
dan Waktu Penelitian
3.2.1
Waktu
Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Januari 2015 pukul 08.00-11.00 WIB.
3.2.2
Tempat
Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan
di muara sungai Bengawan Solo Ujungpangkah, tepatnya di desa Pangkah Wetan
Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik. Adapun batas tempat dari muara sungai
Bengawan Solo Ujungpangkah sebagai berikut:
Utara : Laut Jawa
Selatan : Desa Ketapang Lor
Barat : Desa Pangkah Kulon
Timur : Laut Jawa
3.3
Alat
dan Bahan
Alat yang digunakan adalah:
1. Meteran
2. Tali
rafia
3. Calipers
4. Tabel
ompong
3.4
Prosedur
Kerja
1. Menyebarkan
kuadrat berukuran 10 meter persegi secara acak di vegetasi mangrove.
2. Melakukan
analisis vegetasi berdasarkan variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan
frekuensi.
3. Melakukan
perhitungan untuk mencari harga relatif dari setiap variabel untuk setiap
jenis/spesies tumbuhan.
4. Kemudian
dilanjutkan perhitungan untuk mencari harga nilai penting dari setiap
jenis/spesies tumbuhan.
5. Menyusun
dalam suatu tabel jenis tumbuhan berdasarkan harga nilai penting dari harga
terbesar hingga terkecil.
6. Memberi
nama bentuk vegatasi berdasarkan jenis/spesies
dengan harga nilai penting terbesar.
7. Menghitung
indeks diversitas berdasarkan rumus Shannon
Wienner
DAFTAR
PUSTAKA
Arsornkoae,S.
1993. Ecology and Management of Mangrove.
IUCN. Bangkok. Thailand
Hariyanto,
S. dkk. 2008. Teori dan Praktik Ekologi.
Surabaya: Airlangga University Press.
Irwanto.
2010. Analisis Vegetasi Parameter
Kuantitatif. http://www.irwantoshut.net
Macnae,
W. 1968. A General Account of the Fauna and Flora of Mangrove Swamps qnd Forest
in the Indo-West Pacific Regio. Adv. Mar. Biol. 6: 73-270.
Mulyadi.
1985. Zooplankton di Beberapa Perairan
Mangrove di Indonesia. Jurnal Oseana, Volume X, Nomor 2: 78 - 84, 1985.
Odum,
Eugene. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM Press.
Rohman,
Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk
Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA.
Saenger,
P. dan Snedaker, S. C. 1993. Pantropical
Trends in Mangrove Aboveground Biomass and Annual Litter Fall. Oecologia 96:
293-299.
Setiadi.
1984. Ekologi Tropika. Bandung: ITB Press.
Soerianegara,
I. 1987. Masalah Penentuan Batas Lebar
Jalur Hijau Hutan Mangrove dalam Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove.
Jakarta: Proyek Penelitian Lingkungan Hidup-LIPI.
Sudarmadji,
2004. Deskripsi Jenis-jenis Anggota Suku
Rhizophoraceae di Hutan Mangrove Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Jember:
Jurnal Biodiversitas Volume 5, Nomor 2 Juli 2004 Halaman: 66-70
Syafei,
E.S. 1994. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung:
FMIPA ITB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar